Friday, May 18, 2012

Satpam Cantik , Jembatan, dan Mimpi

I accompanied my mom to the bank dan kalo di bank pasti ada petugas keamanan yang lebih kita kenal dengan satpam. Di situ ada dua satpam wanita dan mereka cantik #njuk Dengan badan tegak, raut wajah yang tegas tapi nggak menyembunyikan senyumnya sehingga pengunjung seperti saya gak bakal ngeri :P Lalu saya mbayangin, apakah dulu mbak ini terpikirkan untuk menjadi satpam? Tanpa bermaksud apapun dan mengingat zaman sekarang kebanyakan wanita ingin menjadi wanita karier. Kerja di kantoran, jadi konsultan, desainer, pengusaha kecil-kecilan, dan lain sebagainya. I don’t have any right sih untuk nge-judge mereka, toh mereka bekerja dengan cara yang halal. I appreciate them. Apalagi terlihat di wajah mereka bahwa mereka enjoy dengan pekerjaan tersebut :-) Mari kita bayangkan, mungkin orang seusia saya kalo bercita-cita pengen jadi orang yang keren, kayak dokter, pengusaha, TV anchor, diplomat, dan lain-lain. Itu bisa dimaklumi karena sebagai manusia, khususnya anak muda, akan terus bermimpi. Mimpi itu akan direalisasikan atau ya hanya sekedar mimpi. Sering terdengar oleh kita, jika kamu ingin meraih suatu, berusahalah mencapainya. Mari kita lihat, tidak sedikit orang yang sudah memiliki mimpi tersebut dan mau melakukan pengorbanan. Salah satu contohnya anak-anak yang harus menyebrangi jembatan yang bisa saja membahayakan mereka sewaktu-waktu (maaf tata bahasa saya berantakan banget (‘o’)7 ) Walah dek, nek aku jadi kowe opo isih gelem aku sekolah, paling aku mbolos ning omah atau nggak aku nyebrang jembatan buat ke mall main Pump It Up (maaf pembaca, silakan gampar saya). See? Mereka nggak peduli halangan apa yang ada di sekitar mereka. Kalo mereka nggak bergerak, mau apa? Apalagi di zaman sekarang, mobilitas berjalan cepat, rasa terkungkung sepertinya kok enggan dirasakan oleh orang-orang saat ini ya? Namun ada juga orang yang bermimpi dan ingin mewujudkannya, tapi keadaan sekitar nggak memungkinkan hal itu terjadi. Saya lupa judul filmnya, Little Miss Sunshine po ya? Pokoknya ada keluarga gitu. Anak pertamanya ingin jadi pilot, tapi dia punya kendala yaitu dia buta warna.. Pernah ngerasa kayak gini? Ketika kita harus mengubur impian terbesar kita karena faktor yang nggak bisa diubah.. Hey, do you believe in ‘mungkin takdir Tuhan berkata lain’ ? Itu berarti kita memang harus mencari haluan lain. Saya percaya ketika kita nggak berhasil di satu hal, masih banyak hal yang bisa digali yang bisa lebih baik atau sukses.. Kembali kepada kita, bagaimana kita mengeksekusi hal tersebut dan kita merasa nyaman… Mungkin salah satu alasan mbak yang saya lihat di bank tadi memang keadaan yang harus membuatnya untuk bekerja sebagai satuan keamanan. Bermimpilah sebelum bermimpi itu dilarang. Nggak ada larangan untuk bermimpi. Pilihan ada di kamu, to make it real or just let it be ‘only dream’ dan hargailah profesi kecil, apapun itu. Angga saja dalam satu kesatuan pasti ada bagian yang kecil yang apabila itu hilang akan membuat satu kesatuan itu ada kekosongan, apabila nggak diisi hanya akan ada kerapuhan. Sebagai makhluk sosial (entah se-individualis apapun kita) kita masih membutuhkan satu sama lain.. Sekecil apapun orang itu Ps. : Semoga anak-anak tersebut nggak kehilangan semangat mereka dalam meraih mimpi seiring berjalannya waktu, karena masa depan bangsa juga di tangan mereka. Semoga mereka tidak dendam terhadap pemerintah yang tidak memperhatikan mereka sekarang, justru yang timbul dalam mereka adalah mengubah Negara ini menjadi lebih baik

No comments: